Ghoutsu Haadzaz Zaman: Makna dan Kedudukan dalam Wahidiyah

Kajian Wahidiyah

Ghoutsu Haadzaz Zaman: Makna dan Kedudukan dalam Wahidiyah

Redaksi FIRRU12 Mei 20266 menit baca

Bagikan artikel

Kirim ke WhatsApp, buka menu share perangkat, atau salin tautan.

WhatsApp

Pembuka

Dalam menempuh perjalanan spiritual, seorang hamba yang dipenuhi kotoran dosa sering kali kebingungan mencari jalan terang menuju Tuhannya. Di sinilah pemahaman tentang ghoutsu haadzaz zaman menjadi sangat esensial. Secara ringkas, istilah ini merujuk pada sosok pembimbing rohani, sang penolong di zaman ini, yang diyakini mendapat karunia khusus dari Allah untuk menuntun umat kembali ke jalan tauhid.

Bagi seorang pengamal, memahami makna dan kedudukan spiritual tokoh ini sangatlah penting. Ia bukan sekadar konsep teoretis, melainkan menjadi fondasi dari salah satu pilar panca ajaran, yakni Lilghauts Bilghauts. Tanpa memahami posisi sang pembimbing rohani, seorang hamba akan rentan tersesat oleh ego dan hawa nafsunya sendiri.

Melalui lensa ajaran dasar Wahidiyah, kita akan menelaah secara mendalam bagaimana peran pembimbing ini dalam menjaga kejernihan hati umat. Mari kita resapi makna teologisnya dengan hati yang tenang dan pikiran yang terbuka.

Arti Ghoutsu Haadzaz Zaman Secara Bahasa

Untuk menyelami maknanya, kita perlu membedah istilah ini dari sudut pandang kebahasaan. Istilah ini tersusun dari perpaduan kata dalam bahasa Arab. Kata pertama adalah al-ghauts yang secara harfiah memiliki arti "pertolongan".

Namun, dalam penggunaannya secara tata bahasa, kata al-ghauts sering kali menempati kedudukan isim fa'il (pelaku). Oleh karena itu, maknanya berkembang menjadi "orang yang memberi pertolongan" atau "hamba yang memiliki kemampuan memberi pertolongan". Tentu saja, pertolongan yang dimaksud di sini bukanlah materi, melainkan bimbingan rohani.

Sedangkan frasa haadzaz zaman memiliki arti "pada zaman ini" atau "di masa ini". Jika digabungkan, ghoutsu haadzaz zaman bermakna sosok pembimbing rohani atau penolong kerohanian umat yang hidup pada era atau zaman tersebut. Ia hadir sebagai mercusuar yang memancarkan cahaya hidayah bagi umat yang hidup satu zaman dengannya.

Konsep Ghauts dalam Tradisi Tasawuf Sunni

Konsep kepemimpinan rohani bukanlah sesuatu yang baru atau eksklusif. Hal ini telah berakar kuat di dalam sejarah dan tradisi tasawuf Sunni yang diakui luas. Para ulama tasawuf meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala tidak pernah membiarkan bumi ini kosong dari para pewaris nabi yang bertugas membimbing akidah masyarakat.

Dalam literatur tasawuf klasik, sosok yang menduduki derajat al-ghauts sering kali disebut dengan gelar Sultan al-Auliya' yang berarti pemimpin para wali kekasih Allah. Ia juga kerap disebut sebagai Qutb al-Aqthab, yakni kutub atau poros utama dari para wali di alam semesta pada masanya.

Tradisi tasawuf mencatat beberapa nama besar yang diyakini pernah menduduki maqam (derajat) spiritual agung ini pada zaman mereka masing-masing. Di antara nama-nama mulia tersebut adalah Syaikh Abdul Qadir al-Jailani, Syaikh Abdus Salam bin Masyisy, Syaikh Baha'uddin al-Naqsyabandi, dan Syaikh Ahmad al-Tijani. Mereka semua mengemban tugas yang sama: menyambungkan rohani umat yang terputus agar kembali tersambung dengan Sang Pencipta.

Ghoutsu Haadzaz Zaman dalam Ajaran Wahidiyah

Setelah memahami dasar historisnya, kita dapat melihat bagaimana konsep ini diterapkan bagi masyarakat modern. Memahami apa itu Wahidiyah tidak bisa dilepaskan dari peran pendirinya, yakni Hadratul Mukarrom Romo KH. Abdoel Madjid Ma'roef.

Di kalangan pengamal Wahidiyah, KH. Abdoel Madjid Ma'roef diyakini memiliki kedudukan sebagai Ghoutsu Haadzaz Zaman. Penghormatan ini tidak lahir dari pengkultusan buta, melainkan dari bukti nyata kemampuannya dalam menuntun hati jutaan manusia yang awalnya keras menjadi lembut dan mudah menangis menyesali dosa. Beliau diposisikan sebagai seorang mursyid yang kamil-mukammil (sempurna dan dapat menyempurnakan orang lain).

Dalam pandangan teologis Wahidiyah, peran utama dari Ghauts adalah memberikan tarbiyah ruhaniyah (pendidikan kerohanian) kepada umat. Beliau memancarkan nadhrah atau sorotan batin. Nadhrah adalah sebuah karunia rahasia (sirr) dari Allah yang dititipkan kepada sang wali, yang daya pancarannya mampu membersihkan jiwa orang yang dituju, baik disadari maupun tidak disadari oleh orang tersebut.

Ajaran Lilghauts Bilghauts: Niat dan Washilah melalui Ghauts

Kedudukan pembimbing kerohanian ini kemudian dikristalkan menjadi sebuah rumusan praktis yang wajib diaplikasikan oleh setiap pengamal, yakni ajaran Lilghauts dan Bilghauts. Ini adalah amalan hati yang mendampingi ajaran tauhid Lillah-Billah.

Lilghauts bermakna bahwa dalam setiap amalan kebaikan yang kita lakukan, kita meniatkannya untuk mengikuti bimbingan Ghoutsu Haadzaz Zaman. Niat ini dibatasi hanya pada amalan yang diridai Allah dan selaras dengan syariat. Hal ini bersandar pada perintah Allah di dalam Al-Qur'an Surat Luqman ayat 15:

Arab:

وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ

Transliterasi: Wattabi' sabiila man anaaba ilayy

Arti: Dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku.

Sedangkan Bilghauts adalah sikap batin yang senantiasa menyadari bahwa setiap hidayah, taufik, dan kebaikan yang bisa kita rasakan saat ini tidak lepas dari jasa sorotan batin sang pembimbing rohani. Menyadari jasa para utusan Allah ini merupakan bentuk penyempurnaan rasa syukur kita. Pemahaman ini sejalan dengan konsep tawassul dalam Wahidiyah, di mana kita menggunakan kedudukan mulia sang kekasih Allah sebagai perantara untuk memohon ampunan.

Tanda-Tanda Ghoutsu Haadzaz Zaman Menurut Sumber Wahidiyah

Tentu saja, derajat keagungan ini tidak bisa diklaim oleh sembarang orang. Di dalam kitab-kitab para wali dan literatur sumber Wahidiyah, disebutkan bahwa terdapat tanda-tanda atau ciri khas kerohanian yang mengiringi seorang Sultan al-Auliya'.

Menurut literatur akademik yang meneliti tradisi ini, terdapat tiga tanda utama dari seorang Ghauts:

Pertama, qalbuhu yathufu ila Allah daiman. Artinya, hati sang tokoh selalu berkeliling dan terus-menerus mengingat Allah sepanjang masa. Hatinya tidak pernah sekalipun lalai atau tertawan oleh pesona kemewahan duniawi, karena ia telah sepenuhnya menerapkan Lillah dan Billah di setiap tarikan napas.

Kedua, lahu sirrun yasrii fi al-alam kamaa yasrii al-ruuh fi al-jasadi aw kamaa yasrii al-ma'u fii al-syajari. Artinya, ia dikaruniai rahasia ketuhanan (sirr) yang daya tembusnya mampu menerobos ke seluruh alam raya, sebagaimana menerobosnya roh di dalam jasad, atau seperti meresapnya air menghidupi sel-sel di dalam pohon. Inilah energi spiritual yang memampukan beliau mendoakan keselamatan seluruh umat manusia di alam semesta (jami'al alamin).

Ketiga, hamlu humuumi ahli al-dunya. Artinya, beliau diberi kesanggupan rohani untuk menanggung kesusahan dan penderitaan batin orang-orang di dunia. Beliau akan merasa sangat sedih jika melihat umat manusia melupakan Tuhannya, dan tiada henti memohonkan hidayah agar mereka diselamatkan dari penderitaan akhirat.

Pertanyaan Umum

Topik mengenai maqam kewalian sering kali memunculkan berbagai pertanyaan dari kalangan masyarakat yang ingin mendalami tokoh Wahidiyah. Berikut adalah penjelasan singkat terkait beberapa hal yang sering ditanyakan:

Apakah setiap zaman selalu ada Ghauts? Dalam keyakinan tasawuf Sunni dan bimbingan Wahidiyah, bumi tidak akan pernah dibiarkan tanpa adanya pewaris nabi yang menjaga cahaya hidayah. Walaupun sosok fisik seperti KH. Abdoel Madjid Ma'roef telah tiada, kedudukan Ghaust Hadza Zaman diyakini akan tetap ada. Allah senantiasa memilih salah satu hamba terbaik-Nya untuk dijadikan sebagai pemimpin para wali di muka bumi ini pada setiap era.

Apakah meyakini Ghauts tidak bertentangan dengan ajaran tauhid? Sama sekali tidak. Ajaran Wahidiyah secara tegas meletakkan tauhid Lillah-Billah (niat ikhlas hanya karena Allah dan sadar hanya kekuatan Allah yang menentukan) pada urutan paling pertama dan utama. Keyakinan terhadap Ghauts murni diposisikan sebagai penghormatan terhadap jasa perantara (wasilah) bimbingan. Pengamal tidak menyembah Ghauts, melainkan bersyukur atas bimbingan rohaninya yang mengantarkan mereka untuk mengenali Allah.

Bagaimana cara kita tersambung dengan bimbingannya? Cara terbaik untuk menyambungkan batin (rabithah) dengan pembimbing rohani ini adalah melalui pengamalan Sholawat Wahidiyah dengan penuh keistiqamahan dan adab yang baik. Memelihara rasa rendah diri (tadzallul) dan merasa sangat butuh (iftiqor) adalah kunci utama agar pancaran nadhrah tersebut bisa melembutkan hati kita.

Penutup

Demikianlah uraian mengenai makna, kedudukan, dan tanda-tanda Ghoutsu Haadzaz Zaman dalam kacamata tasawuf Wahidiyah. Beliau adalah laksana pelita di tengah kegelapan, seorang Mursyid Kamil Mukammil yang tidak henti-hentinya mendoakan keselamatan umat manusia agar terhindar dari kehancuran moral dan spiritual.

Menyadari besarnya cinta dan jasa para pewaris nabi ini seharusnya membuat kita semakin termotivasi untuk memperbaiki diri. Jangan biarkan hati kita membatu oleh urusan duniawi. Fafirru ilallah, larilah kembali kepada Allah. Mari kita aplikasikan ajaran mulia ini agar rohani kita senantiasa dibimbing, dijaga, dan diantarkan menuju keridaan-Nya.


Pengamal Lainya Sedang Membaca:


Baca Juga