Apa Itu Wahidiyah: Sejarah, Ajaran, dan Pengamalan

Kajian Wahidiyah

Apa Itu Wahidiyah: Sejarah, Ajaran, dan Pengamalan

Redaksi FIRRU12 Mei 20268 menit baca

Bagikan artikel

Kirim ke WhatsApp, buka menu share perangkat, atau salin tautan.

WhatsApp

Pembuka

Banyak umat Islam yang menaruh perhatian dan bertanya-tanya, apa sebenarnya Wahidiyah itu dan bagaimana perannya dalam membimbing kita menuju kejernihan hati? Secara mendasar, Wahidiyah adalah sebuah bimbingan praktis lahiriyah dan batiniyah yang berpusat pada pengamalan Sholawat Wahidiyah. Ajaran ini hadir untuk menuntun umat manusia agar senantiasa sadar dan berlari kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala serta Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam.

Sebagai pengamal Wahidiyah, memahami esensi ajaran ini secara utuh sangatlah penting. Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang sejarah lahirnya, pokok-pokok ajaran, hingga cara mengamalkannya di keseharian kita.

Dengan menyelami inti dari ajaran Wahidiyah, kita dapat menjalankan ibadah dengan hati yang lebih tenang, ikhlas, dan penuh kesadaran. Mari kita telaah bersama perjalanan spiritual yang ditawarkan oleh amalan mulia ini.

Pengertian Wahidiyah

Saat membahas tentang apa itu Wahidiyah, kita perlu merujuk pada asal-usul kata tersebut. Istilah Wahidiyah diambil sebagai tabarrukan (mengambil berkah) dari salah satu Asmaul Husna, yakni Al-Waahid yang memiliki arti Yang Maha Esa atau Yang Maha Tunggal.

Nama ini diambil langsung dari bait pertama dalam susunan Sholawat Wahidiyah yang berbunyi:

Arab:

اَللّٰهُمَّ يَا وَاحِدُ يَا اَحَدُ يَا وَاجِدُ يَا جَوَادُ

Transliterasi: Allāhumma yā Wāḥidu yā Aḥadu yā Wājidu yā Jawād

Arti: Ya Allah, wahai Yang Maha Esa, Yang Maha Tunggal, Yang Maha Menemukan, Yang Maha Pemberi.

Penggunaan nama ini menanggung makna filosofis yang sangat dalam. Menurut para ulama tasawuf, lafal Al-Waahid memiliki khasiat untuk menghilangkan rasa bingung, cemas, gelisah, dan takut di dalam hati manusia.

Siapa pun yang mengamalkan sebutan Asma Allah ini dengan sepenuh hati dan dengan sikap merendahkan diri, insya-Allah akan dikaruniai perasaan tenang. Ia tidak akan lagi diliputi rasa khawatir terhadap sesama makhluk, dan hatinya hanya dipenuhi rasa tunduk serta takut kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Lebih dari sekadar nama, Wahidiyah adalah jalan untuk membangun ketauhidan murni. Tujuan utamanya adalah untuk menjernihkan hati (tasfiyatul qulub) dan mencapai kesadaran yang hakiki (ma'rifat billah) di tengah hiruk-pikuk kehidupan dunia yang sering kali melalaikan.

Sejarah Singkat Lahirnya Wahidiyah

Untuk menyelami lebih dalam, kita perlu melihat kembali sejarah Wahidiyah yang bermula di Kedunglo, Kota Kediri, Jawa Timur. Ajaran ini tidak muncul dari ruang hampa, melainkan lahir dari keprihatinan mendalam seorang ulama besar, yakni KH. Abdoel Madjid Ma'roef. Beliau adalah putra dari KH. Mohammad Ma'roef, tokoh pendiri Pondok Pesantren Kedunglo.

Perjalanan lahirnya ajaran ini bermula pada rentang waktu 1959. Saat itu, KH. Abdoel Madjid Ma'roef menerima apa yang beliau sebut sebagai "alamat ghaib". Berdasarkan catatan sejarah di kalangan pengamal Wahidiyah, istilah "alamat ghaib" ini sengaja digunakan oleh beliau untuk menegaskan bahwa petunjuk tersebut diterima dalam keadaan terjaga dan sadar sepenuhnya, bukan melalui sebuah mimpi.

Pesan dari alamat ghaib tersebut sangat jelas: sebuah dorongan spiritual agar beliau turut serta memperbaiki mental dan moral masyarakat melalui jalan batiniyah. Merasa sangat prihatin dengan kondisi umat, beliau memusatkan kekuatan spiritualnya, bermunajat, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah.

Pada tahun 1963, tepatnya di bulan Muharram, beliau kembali menerima alamat ghaib yang memperkuat isyarat sebelumnya. Rangkaian petunjuk inilah yang pada akhirnya menuntun KH. Abdoel Madjid Ma'roef untuk mulai menyusun bait demi bait doa sholawat.

Susunan sholawat ini terus disempurnakan secara bertahap hingga menjadi lembaran utuh seperti yang kita kenal sekarang. Mulai 10 Mei 1963, sholawat beserta ajaran Wahidiyah secara resmi diijazahkan secara mutlak untuk diamalkan dan disiarkan kepada masyarakat luas tanpa memandang golongan.

Ajaran Dasar Wahidiyah

Sebagai sebuah bimbingan yang mencakup syariat, hakikat, dan akhlak, Wahidiyah merumuskan konsep ajarannya ke dalam beberapa prinsip pokok. Panca ajaran ini harus senantiasa direalisasikan oleh setiap pengamal Wahidiyah dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut adalah penjabaran dari pokok-pokok ajaran dasar Wahidiyah:

1. Lillah dan Billah

Ajaran Lillah berarti bahwa segala amal perbuatan—baik yang wajib, sunnah, maupun mubah—harus disertai dengan niat murni untuk beribadah dan mengabdi kepada Allah. Syarat utamanya adalah perbuatan tersebut tidak melanggar syariat dan bukan perbuatan yang merugikan. Semuanya dilakukan dengan ikhlas, tanpa pamrih duniawi maupun ukhrawi.

Sementara itu, Billah adalah kesadaran batin yang harus selalu dijaga. Di manapun dan kapanpun, seorang pengamal harus menyadari di dalam hatinya bahwa segala gerak-gerik lahir maupun batin pada hakikatnya diciptakan dan dititahkan oleh Allah. Kita tidak boleh merasa memiliki daya dan kekuatan sendiri, melainkan sepenuhnya bertumpu pada Laa Haula Walaa Quwwata Illa Billah.

2. Lirrasul dan Birrasul

Lirrasul berarti dalam setiap ibadah dan amal perbuatan, selain berniat Lillah, kita juga meniatkannya sebagai bentuk kepatuhan dan kesetiaan mengikuti tuntunan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam. Ini adalah wujud kecintaan yang mendalam kepada Nabi Muhammad sebagai utusan pembawa rahmat.

Sedangkan Birrasul adalah perasaan sadar bahwa segala amal kebajikan yang kita lakukan bisa terwujud karena adanya syafaat, bimbingan, dan jasa dari Rasulullah. Tanpa pancaran cahaya dan tuntunan beliau, manusia akan hidup dalam kegelapan.

3. Lilghauts dan Bilghauts

Dalam tradisi Wahidiyah, Lilghauts adalah niat batin untuk mengikuti bimbingan Ghautsu Hadzaz-Zaman (penolong di zaman ini). Hal ini semata-mata merupakan amalan hati yang tidak mengubah sedikitpun ketentuan syariat Islam. Niat ini dibatasi hanya pada perkara-perkara yang diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya.

Bilghauts berarti menyadari sepenuhnya bahwa diri kita senantiasa menerima pancaran bimbingan ruhani dari sang Ghauts, baik disadari maupun tidak. Bimbingan bathiniyah inilah yang diyakini menuntun hati kita agar lebih mudah kembali kepada Allah dan Rasul-Nya di era yang penuh fitnah ini.

4. Yukti Kulla Dzi Haqqin Haqqoh

Ajaran ini menitikberatkan pada aspek sosial (hablumminannas). Artinya adalah senantiasa mengisi dan memenuhi kewajiban kita kepada siapapun, tanpa menuntut hak. Hal ini mencakup kewajiban kepada Allah, kepada Rasul, dan kepada sesama manusia.

Praktiknya di masyarakat melahirkan budi pekerti yang luhur. Pengamal Wahidiyah diajarkan untuk selalu ramah-tamah, sopan santun, tawadhu', suka menolong, jujur, berbaik sangka, dan penuh kasih sayang. Etika inilah yang menjadi fondasi kerukunan dan kedamaian di tengah masyarakat.

5. Taqdimul Aham Fal Aham Tsummal Anfa' Fal Anfa'

Prinsip ini berarti mendahulukan hal-hal yang lebih penting, lalu mendahulukan hal-hal yang lebih bermanfaat. Dalam mengambil keputusan, pengamal Wahidiyah diajarkan untuk selalu memprioritaskan kewajiban yang berkaitan langsung dengan Allah dan Rasul-Nya.

Sedangkan dalam urusan yang berkaitan dengan manusia, kita harus mendahulukan tindakan yang membawa manfaat paling besar bagi masyarakat luas. Sikap ini melatih kita untuk bertindak bijaksana, adil, dan senantiasa berorientasi pada kemaslahatan bersama.

Sholawat Wahidiyah dan Fungsinya

Sholawat Wahidiyah bukanlah sekadar susunan kata, melainkan sebuah doa permohonan yang mendalam agar hati kita dijernihkan dan dituntun menuju ma'rifat (kesadaran) kepada Allah dan Rasul-Nya. Amalan ini terbukti membawa ketenangan jiwa bagi mereka yang mempraktikkannya dengan sungguh-sungguh.

Berbeda dengan tarekat konvensional yang biasanya mewajibkan baiat dan memiliki silsilah keguruan yang ketat, Sholawat Wahidiyah tergolong ke dalam amalan yang terbuka (ghairu ma'tsurah yang diijazahkan secara mutlak). Amalan ini tidak memerlukan baiat, sehingga siapa pun, dari latar belakang organisasi apapun, diizinkan untuk mengamalkannya.

Salah satu bacaan sentral yang sering digaungkan di dalam pengamalan ini adalah:

Arab:

يَا سَيِّدِي يَا رَسُوْلَ اللهِ

Transliterasi: Yā Sayyidī yā Rasūlallāh

Arti: Duhai pemimpin kami, duhai utusan Allah.

Bacaan ini dapat dilantunkan setiap saat di manapun kita berada. Fungsinya adalah sebagai bentuk tawasul dan sambung hati kepada Rasulullah agar kita senantiasa diakui sebagai umatnya yang layak mendapat syafaat.

Selain itu, jiwa dari gerakan ini terangkum dalam satu seruan luhur:

Arab:

فَفِرُّوْا اِلَى اللهِ

Transliterasi: Fafirruu ilallaah

Arti: Larilah kembali kepada Allah.

Kalimat suci ini menjadi pengingat bagi setiap jiwa yang lelah dengan urusan duniawi untuk segera memahami makna fafirru ilallah dan mengarahkan kembali kompas kehidupannya semata-mata kepada Sang Pencipta.

Cara Mengamalkan Wahidiyah dalam Keseharian

Cara utama untuk mengamalkan Sholawat Wahidiyah adalah melalui kegiatan yang disebut Mujahadah. Mujahadah berarti bersungguh-sungguh memerangi hawa nafsu dan mengarahkan kesadaran penuh kepada Allah.

Ada berbagai jenis mujahadah yang diajarkan, seperti Mujahadah Yaumiyah (harian), Mujahadah Usbu'iyah (mingguan), Mujahadah Syahriyah (bulanan), hingga Mujahadah Kubro yang biasanya dilaksanakan dua kali dalam setahun secara serempak.

Untuk memulai, bacalah panduan mujahadah Wahidiyah dengan saksama. Secara umum, bagi mereka yang baru mengenal, dianjurkan melakukan Mujahadah 40 hari berturut-turut, atau diringkas menjadi 7 hari, dengan bilangan bacaan yang telah ditetapkan pada lembaran sholawat. Jika belum hafal, Anda bisa memanfaatkan fasilitas Sholawat Wahidiyah Digital yang kami sediakan untuk memandu bacaan secara runtut.

Namun, keberhasilan pengamalan ini sangat ditentukan oleh pemeliharaan adab. Berikut adalah beberapa sikap batin yang harus dijaga:

  • Istihdlar: Memusatkan pikiran dan merasa seolah-olah benar-benar hadir di hadapan Rasulullah.
  • Tadzallul: Merasa diri sangat hina di hadapan kebesaran Allah akibat dosa-dosa yang sering kita lakukan.
  • Tadhollum: Mengakui bahwa diri kita penuh dengan kezaliman, baik kepada Allah, Rasul, keluarga, maupun sesama makhluk.
  • Iftiqor: Merasa sangat butuh terhadap ampunan, perlindungan, dan hidayah dari Allah, serta butuh syafaat dari Rasulullah.

Dengan memadukan bacaan lisan dan tata krama batin ini, niscaya kesejukan dan perubahan positif akan mulai terasa mengaliri sendi-sendi kehidupan kita.

Pertanyaan Umum tentang Wahidiyah

Banyak pertanyaan yang sering muncul dari masyarakat terkait ajaran ini. Berikut adalah beberapa jawaban atas keingintahuan yang umum beredar:

Apakah Wahidiyah merupakan sebuah Tarekat?

Wahidiyah menamakan dirinya sebagai gerakan tasawuf, dan fungsinya sangat mirip dengan tarekat dalam membimbing rohani. Namun, Wahidiyah bukan tarekat konvensional (mu'tabarah) karena tidak ada syarat baiat khusus dan sistem silsilah mursyid yang eksklusif. Siapa pun dapat mengamalkannya tanpa syarat keanggotaan tertentu.

Apakah mengamalkan Wahidiyah harus keluar dari organisasi Islam lain?

Sama sekali tidak. Ajaran Wahidiyah sangat universal dan inklusif. Di dalam Wahidiyah ditekankan prinsip: "Jika kamu NU, jadilah NU yang baik. Jika kamu Muhammadiyah, jadilah Muhammadiyah yang baik." Wahidiyah hadir untuk mewarnai kedalaman batin setiap orang, apa pun latar belakang organisasinya.

Apa bukti bahwa Wahidiyah bukan ajaran menyimpang?

Inti dari ajaran Wahidiyah berpedoman teguh pada Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah. Sejak tahun 1970 hingga seterusnya, berbagai lembaga pemerintah termasuk Kejaksaan Tinggi dan Badan Litbang Departemen Agama telah melakukan penelitian berulang-ulang, dan hasilnya menyatakan bahwa ajaran ini murni bertujuan mendekatkan umat kepada Allah dan sama sekali tidak menyesatkan.

Penutup

Demikianlah uraian lengkap mengenai apa itu Wahidiyah, mulai dari akar sejarah di Kediri, panca ajaran dasar, hingga tata cara pengamalannya yang penuh tata krama. Bimbingan ini hadir bagaikan mata air yang menjernihkan kalbu di tengah keruhnya zaman modern.

Dengan mengamalkan Sholawat Wahidiyah secara istiqamah, kita diajak untuk meletakkan ego dan mengakui bahwa kita bukanlah siapa-siapa tanpa pertolongan-Nya. Mulailah mengamalkan sedikit demi sedikit dengan penuh keikhlasan. Fafirru ilallah, larilah kembali kepada Allah dan rasukanlah ketenangan sejati di dalam dada.


Pengamal Lainya Sedang Membaca:


Baca Juga