Praktik Nida' atau seruan "Fafirru Ilallah" (ففرّ الى الله) yang dilakukan dengan berdiri menghadap ke empat penjuru mata angin bukanlah tanpa dasar. Praktik ini merupakan bentuk ittiba' (mengikuti jejak) apa yang pernah dilakukan oleh Nabi Ibrahim 'Alaihissalam.
Peristiwa bersejarah ini terjadi sesaat setelah Nabi Ibrahim selesai membangun Ka'bah. Beliau diperintahkan oleh Allah SWT untuk menyeru manusia agar menunaikan ibadah haji. Saat menyeru itulah, beliau berdiri di atas Gunung Abi Qubes (Jabal Abu Qubais) dan menghadap ke arah utara, selatan, timur, dan barat agar seruannya sampai ke seluruh penjuru.
Berikut adalah penjelasan lengkap mengenai dalil Al-Qur'an dan penafsiran para ulama terkait peristiwa tersebut.
1. Perintah Menyeru Haji dari Segala Penjuru
Dasar utama dari peristiwa ini terekam dalam Al-Qur'an Surah Al-Hajj. Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim untuk memanggil umat manusia.
Firman Allah SWT:
وَأَذِّن فِي النَّاسِ بِالْحَجِّ يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَىٰ كُلِّ ضَامِرٍ يَأْتِينَ مِن كُلِّ فَجٍّ عَمِيقٍ
"Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh." (QS. Al-Hajj: 27)
Penjelasan Tafsir:
Dalam kitab Tafsir Jalalain, dijelaskan mengenai bagaimana cara Nabi Ibrahim melaksanakan perintah tersebut:
"Dikatakan dalam tafsir ayat ini: Maka Nabi Ibrahim 'Alaihissalam memanggil manusia dari atas Gunung Abi Qubes: 'Wahai manusia sesungguhnya Tuhanmu telah membangun rumah (Ka’bah) dan telah mewajibkan haji atasmu maka penuhilah panggilan Tuhanmu', kemudian Nabi Ibrahim menolehkan wajahnya ke arah kanan, kiri, timur dan barat."
— Sumber: Tafsir Jalalain, Muhammad Bin Ahmad Al-Mahaly, Penerbit Toha Putra Semarang, Juz 1, Hal. 276.
2. Perintah Mengikuti Millah (Agama) Nabi Ibrahim
Mengapa kita perlu meneladani tata cara Nabi Ibrahim? Karena Al-Qur'an secara tegas memerintahkan umat Islam untuk mengikuti Millah Ibrahim (Agama Ibrahim) yang lurus.
Firman Allah SWT:
قُلْ صَدَقَ اللَّهُ ۗ فَاتَّبِعُوا مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
"Katakanlah (Muhammad): Maha Benar Allah, maka ikutilah agama Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah termasuk orang-orang yang musyrik." (QS. Ali Imran: 95)
Penjelasan Ulama:
Syeikh Muhammad Nawawi Al-Jawi menjelaskan makna "mengikuti agama Ibrahim" sebagai berikut:
"Maksudnya adalah ikutilah agama Islam yang merupakan agama asal Nabi Ibrahim, karena sesungguhnya agama (yang dibawa) Nabi Muhammad SAW adalah (penerus) agama Nabi Ibrahim."
— Sumber: Tafsir An-Nawawi (Marah Labid), Muhammad Nawawi Al-Jawi, Usaha Keluarga Semarang, Juz 1, Hal. 110.
Sementara itu, dalam Tafsir Jalalain dipertegas mengenai makna kata Hanif:
"Kata 'Hanifan' maksudnya adalah condong/berpaling dari setiap agama (yang batil) menuju kepada Islam."
— Sumber: Tafsir Jalalain, Juz 1, Hal. 57.
3. Umat Nabi Muhammad adalah Pewaris Nabi Ibrahim
Hubungan antara syariat Nabi Muhammad SAW dan Nabi Ibrahim AS sangatlah erat. Orang-orang yang beriman kepada Rasulullah SAW adalah golongan yang paling berhak dan paling dekat dengan Nabi Ibrahim.
Firman Allah SWT:
إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِإِبْرَاهِيمَ لَلَّذِينَ اتَّبَعُوهُ وَهَٰذَا النَّبِيُّ وَالَّذِينَ آمَنُوا ۗ وَاللَّهُ وَلِيُّ الْمُؤْمِنِينَ
"Sesungguhnya orang yang paling dekat kepada Ibrahim ialah orang-orang yang mengikutinya dan Nabi ini (Nabi Muhammad) serta orang-orang yang beriman. Dan Allah adalah pelindung semua orang yang beriman". (QS. Ali Imran: 68)
Penjelasan Tafsir:
Syeikh Nawawi Al-Jawi memberikan penafsiran mendalam mengenai ayat ini:
"Yang dimaksud 'orang-orang yang beriman' adalah mereka yang beriman kepada Nabi Muhammad. Merekalah yang pantas berkata: 'Bahwa kami tunduk kepada agamanya', karena sesungguhnya syariat Nabi Muhammad pada umumnya sesuai (selaras) dengan syariat Nabi Ibrahim."
— Sumber: Tafsir An-Nawawi, Juz 1, Hal. 103-104.
Kesimpulan
Berdasarkan dalil-dalil di atas, dapat dipahami bahwa Nida' "Fafirru Ilallah" dengan menghadap ke empat penjuru mata angin memiliki sandaran sejarah yang kuat. Hal ini merupakan bentuk ittiba' terhadap cara Nabi Ibrahim 'Alaihissalam saat menyerukan perintah Allah dari puncak Gunung Abi Qubes. Sebagai umat Nabi Muhammad SAW yang diperintahkan mengikuti Millah Ibrahim, meneladani semangat dan cara beliau dalam menyeru kepada Allah adalah perbuatan yang mulia.