Menelusuri Jejak Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Kedunglo Al-Munadhdharah

Menelusuri Jejak Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Kedunglo Al-Munadhdharah
Sejarah Pesantren

Menelusuri Jejak Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren Kedunglo Al-Munadhdharah

Admin DPRW26 November 2025

Pendahuluan: Letak Geografis dan Latar Belakang

Pondok Pesantren Kedunglo Al-Munadhdharah merupakan salah satu pesantren bersejarah yang terletak di Kota Kediri, Jawa Timur. Secara geografis, pesantren ini berlokasi di Desa Bandar Lor, Kecamatan Mojoroto, tepatnya di tepian sebelah barat Sungai Brantas, sekitar 1 kilometer dari pusat kota Kediri. Lokasi ini sangat strategis namun memiliki sejarah pembukaan lahan yang penuh dengan nuansa spiritual.

Desa Bandar Lor sendiri adalah kawasan padat penduduk. Berdasarkan data monografi tahun 2002, desa ini memiliki luas sekitar 111,35 Ha dengan ribuan penduduk yang menyebar di berbagai Rukun Tetangga (RT). Di tengah hiruk-pikuk pemukiman inilah, tepatnya di RT 17 RW 03, Pondok Pesantren Kedunglo berdiri kokoh sebagai mercusuar pendidikan Islam dan pusat penyebaran Sholawat Wahidiyah.

Latar belakang berdirinya pesantren ini tidak lepas dari kondisi sosial masyarakat Indonesia pada akhir tahun 1800-an hingga awal 1900-an. Pada masa itu, kesadaran umat Islam mulai bangkit untuk melawan hegemoni kolonialisme Belanda dan penetrasi misi agama lain. Tokoh-tokoh Islam menyadari bahwa perjuangan fisik saja tidak cukup; diperlukan benteng pertahanan mental dan spiritual melalui pendidikan pesantren. Salah satu tokoh visioner yang menyadari hal ini adalah KH. Mohammad Ma'roef.

Profil Sang Pendiri: KH. Mohammad Ma'roef

KH. Mohammad Ma'roef lahir pada tahun 1852 di Dusun Klampok Arum, Desa Badal, Ngadiluwih, Kediri. Beliau berasal dari nasab yang mulia, putra dari K. Abdul Madjid, seorang ulama disegani di daerahnya. Sejak kecil, tanda-tanda keistimewaan sudah terlihat pada diri beliau meskipun masa kecilnya dilalui dengan penuh keprihatinan.

Yatim piatu sejak dini, Mohammad Ma'roef kecil diasuh oleh kakaknya, Nyai Bul Kijah. Awalnya, beliau dikenal sebagai anak yang sulit menerima pelajaran. Namun, berkat ketekunan tirakat, puasa Senin-Kamis, dan riyadhah yang kuat, Allah SWT membukakan pintu ilmu (Ilmu Laduni) baginya.

Perjalanan menuntut ilmu beliau sangat panjang dan penuh perjuangan. Mulai dari Pondok Pesantren Cepoko Nganjuk, berguru kepada K. Sholeh Darat di Semarang, Pondok Langitan Tuban, hingga berguru kepada Syaikhona Kholil Bangkalan di Madura.

Kisah Karomah Saat Menuntut Ilmu

Ada kisah menarik saat beliau berguru kepada Syaikhona Kholil Bangkalan. Syaikhona Kholil menyambutnya dengan ujian yang tidak biasa, yaitu menghabiskan nampan besar nasi dengan lauk ikan bandeng utuh. Berkat doa khusus, Mohammad Ma'roef mampu menghabiskannya. Selama di Madura, beliau juga gemar berziarah dan tirakat di makam para wali, seperti di Bujuk Sangkak dan Batu Ampar, demi mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

Puncaknya, setelah menyelesaikan ibadah haji dan bermukim di Makkah selama kurang lebih 7 tahun (1887-1894), beliau berguru kepada ulama-ulama besar dunia seperti Syekh Nawawi Al-Bantani dan Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi. Bekal keilmuan inilah yang kemudian dibawa pulang untuk mendirikan pesantren.

Babad Alas Kedunglo: Dari Rawa Menjadi Pesantren

Sepulang dari Tanah Suci, KH. Mohammad Ma'roef diminta oleh mertuanya, K. Shaleh Banjarmlati, untuk mencari tanah guna mendirikan pesantren. Melalui proses tirakat dengan mengamalkan Sholawat Nariyah sebanyak 4.444 kali setiap hari, beliau mendapatkan petunjuk (hidayah) untuk memilih sebidang tanah di barat Sungai Brantas.

Pilihan tanah tersebut sempat ditentang oleh keluarga dan masyarakat. Alasannya, tanah tersebut dikenal sebagai bumi "Supit Urang", kawasan rawa-rawa angker yang menyerupai danau dan dianggap tidak layak huni. Namun, dengan pandangan batinnya (waskita), KH. Mohammad Ma'roef bersikeras memilih lokasi tersebut. Beliau memiliki visi bahwa tempat ini kelak akan menjadi istimewa karena dekat dengan pasar, sungai, dan pusat kota.

Pada akhir tahun 1800-an, tanah tersebut dibeli dan didirikanlah sebuah pondok yang diberi nama "Kedunglo". Nama ini diambil dari kondisi geografisnya: "Kedung" yang berarti cekungan air atau danau, dan "Lo" yang merujuk pada pohon Lo besar yang tumbuh di lokasi tersebut. Karena lokasi awal sering banjir, pada tahun 1901 pesantren dipindahkan sekitar 100 meter ke arah selatan, tempat di mana masjid tua dan asrama santri berdiri kokoh hingga saat ini.

Sistem Pendidikan Era KH. Mohammad Ma'roef

Di bawah asuhan KH. Mohammad Ma'roef, Kedunglo menjadi pesantren yang unik. Beliau tidak menginginkan santri yang terlalu banyak. Beliau berdoa agar santrinya tidak lebih dari 40 orang untuk menjaga kualitas dan kebersihan hati pondok. Jika jumlahnya lebih, biasanya ada saja yang pulang.

Meskipun jumlah santrinya sedikit, lulusan Kedunglo pada masa itu menjadi ulama-ulama besar di tanah Jawa. Sebut saja K. Dalhar Watu Congol (Magelang), K. Manaf Abdul Karim (Pendiri Lirboyo), K. Musyafa' Kaliwungu, hingga K. Hasyim Asy'ari (Pendiri NU) yang merupakan sahabat seperjuangan beliau.

Metode pengajarannya sangat mendalam. Beliau adalah guru tunggal (single fighter) yang menguasai berbagai disiplin ilmu. Ketika mengajarkan kitab Alfiyah, beliau tidak hanya membahas gramatika (nahwu), tetapi juga merambah ke ilmu balaghah dan disiplin ilmu lainnya secara komprehensif.

Wafatnya Sang Pendiri

Setelah mengabdikan diri selama kurang lebih 56 tahun memimpin pondok, KH. Mohammad Ma'roef wafat pada hari Rabu Wage, bulan Muharram tahun 1375 H (1955 M) dalam usia 103 tahun. Beliau meninggalkan warisan spiritual yang kuat, termasuk wasiat tentang akan lahirnya "Sholawat yang bagus" di bumi Kedunglo, yang kelak terbukti dengan lahirnya Sholawat Wahidiyah.

Estafet kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh putra beliau, KH. Abdul Madjid Ma'roef, yang akan membawa Kedunglo memasuki era baru yang lebih gemilang.

Sumber:

  • Dokumen Sejarah Pondok Pesantren Kedunglo.
  • Biografi KH. Mohammad Ma'roef.