Maling Kelapa Malah Dikasihani? Mengenal Sosok Kyai Super Humble dari Kediri

Maling Kelapa Malah Dikasihani? Mengenal Sosok Kyai Super Humble dari Kediri
Biografi Tokoh

Maling Kelapa Malah Dikasihani? Mengenal Sosok Kyai Super Humble dari Kediri

Admin DPRW23 November 2025

❤️ Kyai dengan Akhlak "Rasuli"

Bayangkan kamu punya kebun kelapa, lalu melihat ada orang sedang mencuri buahnya. Pasti reflek kita teriak "Maling!", kan? Tapi beda dengan Mbah KH. Abdul Majid Ma’ruf. Saat memergoki pencuri kelapa di kebunnya, beliau malah sembunyi dan lari menjauh. Alasannya bikin terharu: beliau nggak mau si pencuri merasa malu kalau ketahuan pemiliknya. Beliau kasihan!

Mbah Majid memang dikenal sebagai ulama yang tawadlu (rendah hati) tingkat dewa. Padahal, beliau bukan orang sembarangan. Ayahnya adalah pendiri NU dan teman akrab KH. Hasyim Asy'ari. Beliau juga punya banyak kelebihan spiritual (karomah), tapi selalu berusaha menutupinya. Beliau paling anti pamer kesaktian di depan orang awam.

Dalam berpendapat pun beliau sangat santun. Kalau rapat, beliau nggak pernah bilang "Menurut saya...", tapi pakai bahasa halus seperti "Umpama begini bagaimana ya?". Sosoknya benar-benar mencerminkan akhlak Rasulullah, yang bikin siapa saja yang bertemu beliau langsung jatuh hati dan segan.

🌟 Poin-Poin Penting

  • Anak Tokoh Besar: Putra dari Mbah Ma'roef, pendiri Pesantren Kedunglo dan salah satu pendiri NU.
  • Humble Tingkat Tinggi: Kisah sembunyi dari pencuri kelapa membuktikan betapa beliau menjaga perasaan orang lain, bahkan pendosa sekalipun.
  • Menutupi Kesaktian: Meski dijuluki Shahibul Karomah (pemilik keramat) oleh Gus Dur, beliau enggan memamerkannya.
  • Bahasa Santun: Selalu menggunakan kata-kata usulan yang halus, tidak otoriter atau merasa paling benar.
  • Ahli Ibadah: Sejak muda hobi tirakat, puasa, dan shalat malam.

💡 Pelajaran yang Bisa Diambil

  1. Memanusiakan Manusia: Menjaga harga diri orang lain (meskipun dia salah) adalah bentuk akhlak yang sangat mulia.
  2. Ilmu Padi: Semakin tinggi ilmu dan kedudukan, seharusnya semakin rendah hati, bukan semakin sombong.
  3. Lembut dalam Bicara: Pemimpin yang baik tidak perlu teriak-teriak. Usulan yang disampaikan dengan lembut seringkali lebih didengar.

Istilah Sulit:

  • Tawadlu: Sikap rendah hati, tidak merasa lebih baik dari orang lain.
  • Mukhtasyar: Dewan penasihat atau pertimbangan (posisi tinggi dalam struktur NU).