Pendahuluan
Konflik berkepanjangan yang melanda Wahidiyah pada awal 1990-an menghasilkan fragmentasi yang nyata. Hingga saat ini, sejarah mencatat adanya polarisasi kelompok yang masing-masing mengklaim membawa bendera Wahidiyah. Bagi masyarakat awam atau pengamal baru, hal ini tentu membingungkan.
Artikel ini akan membedah peta kekuatan faksi-faksi tersebut: Siapa mereka, di mana basisnya, dan apa perbedaan mendasar di antara ketiganya.
1. PSW Pusat Kedunglo (Jalur Resmi)
Ini adalah jalur utama dan satu-satunya yang memegang legitimasi penuh baik secara historis, administratif, maupun spiritual (wasiat Mualif).
- Pemimpin: KH. Abdul Latif Madjid RA (PUPW) - diteruskan oleh penerusnya.
- Basis: Pondok Pesantren Kedunglo Al Munadhdharah, Kota Kediri.
- Karakteristik: Memegang teguh ajaran murni Mualif tanpa tambahan inovasi ritual (seperti pengkhususan hari pasaran). Struktur organisasinya rapi dan diakui pemerintah.
- Posisi: Merupakan "Batang Tubuh" utama Wahidiyah yang sah.
2. PSW Jombang (Kelompok At-Tahdzib)
Kelompok ini merupakan faksi pertama yang memisahkan diri secara terorganisir.
- Tokoh Kunci: K. Ihsan Mahin (Pengasuh), didukung oleh eks-pengurus PSW lama seperti Ruhan Sanusi dan AF Badri.
- Basis: Pondok Pesantren At-Tahdzib, Grenggeng, Ngoro, Jombang.
- Karakteristik: Menjalankan ritual Mujahadah Jum'at Wage dan Legi. Mereka mengklaim sebagai penerus tradisi lama pengurus PSW era Mualif, namun dalam praktiknya telah memisahkan diri dari komando Kedunglo.
- Sejarah: Awalnya menjadi tempat bernaung H. Agus Abdul Hamid Madjid setelah keluar dari Kedunglo, sebelum akhirnya beliau pun pecah kongsi dengan kelompok ini.
3. PSW Utara Kedunglo (Jama'ah Perjuangan Wahidiyah)
Ini adalah faksi ketiga yang unik karena lokasinya yang sangat berdekatan dengan pusat (hanya di sebelah utara Ponpes Kedunglo).
- Tokoh Kunci: H. Agus Abdul Hamid Madjid.
- Basis: Utara Pondok Pesantren Kedunglo, Kediri.
- Nama Organisasi: Awalnya memakai nama "PSW Miladiyah Mualif", sekarang dikenal sebagai Jama'ah Perjuangan Wahidiyah.
- Karakteristik: Kelompok ini terbentuk setelah Agus Hamid berpisah dari kelompok Jombang. Mereka tetap menjalankan tradisi WL (Wage-Legi) namun dengan manajemen terpisah dari Jombang.
- Kegiatan Tandingan: Mereka rutin mengadakan Mujahadah Kubro tandingan pada bulan Muharram dan Rajab, biasanya dilaksanakan seminggu sebelum jadwal resmi Mujahadah Kubro di Kedunglo.
Analisis Perpecahan
Terbentuknya tiga faksi ini menunjukkan betapa kompleksnya ujian yang dihadapi Wahidiyah.
- Kedunglo vs Jombang: Konflik berbasis struktur organisasi dan kepemimpinan (Perebutan legitimasi PSW).
- Jombang vs Utara Kedunglo: Konflik kepentingan internal oposisi. Pecahnya Agus Hamid dari Jombang membuktikan bahwa koalisi oposisi tidak didasari visi yang kuat, melainkan hanya kesamaan "musuh" (Kedunglo) saat itu.
Implikasi bagi Pengamal
Adanya tiga kelompok ini seringkali membingungkan masyarakat. Kelompok Jombang dan Utara Kedunglo sering menggunakan atribut yang mirip dengan Wahidiyah resmi. Namun, secara prinsip ajaran, PSW Pusat Kedunglo menegaskan bahwa kelompok selain yang di bawah komando PUPW adalah tidak sah.
Penetapan jadwal Mujahadah Kubro tandingan oleh kelompok Utara Kedunglo, misalnya, dilihat sebagai upaya membingungkan umat dan mengurangi sakralitas acara resmi di Kedunglo. Namun, dalih mereka bahwa itu sesuai dawuh Mualif (minggu kedua Muharram/Rajab) dianggap hanya pembenaran (legitimasi) semata untuk menutupi motif perpecahan.
Kesimpulan
Memahami peta faksi ini penting agar pengamal Wahidiyah tidak salah melangkah. Meskipun ada tiga kelompok yang menggunakan nama Wahidiyah, hanya satu yang memiliki sanad kepemimpinan yang tersambung lurus dan diakui secara de jure maupun de facto warisan Mualif, yaitu PSW Pusat Kedunglo. Dua lainnya adalah sempalan sejarah yang menyimpang dari garis komando.
Sumber:
- Observasi Lapangan Kegiatan Mujahadah.
- Sejarah Konflik Internal Wahidiyah.
- Data Lokasi Pesantren terkait.