Memahami Rangkaian dan Perkembangan Perjuangan Shalawat Wahidiyah

Memahami Rangkaian dan Perkembangan Perjuangan Shalawat Wahidiyah
Wahidiyah

Memahami Rangkaian dan Perkembangan Perjuangan Shalawat Wahidiyah

Admin DPRW1 Januari 2025

Shalawat Wahidiyah adalah sebuah gerakan spiritual dan sosial yang memiliki rangkaian kegiatan rutin yang terstruktur, mulai dari tingkat personal hingga tingkat nasional (kubro). Perkembangan gerakan ini juga terbilang fenomenal, ditandai dengan peningkatan jumlah pengamal yang signifikan dan kemajuan institusi di bawah kepemimpinan Kanjeng Romo K.H. Abdoel Lathief Madjied R.A.

1. Apa itu Rangkaian Acara Wahidiyah?

Rangkaian acara Wahidiyah adalah serangkaian Mujahadah (latihan spiritual) yang dilaksanakan oleh seluruh pengamal Shalawat Wahidiyah. Mujahadah ini merupakan wujud dari perjuangan kesadaran yang bertujuan Fafirruu Ilallah wa Rasulihi saw (berlari/berjuang menuju Allah dan Rasul-Nya).

Mujahadah tersebut diselenggarakan secara bertingkat:

  1. Mujahadah Yaumiyah (Harian): Dilakukan secara personal.
  2. Mujahadah Usbuiyah (Mingguan): Dilakukan secara berjamaah di tingkat desa.
  3. Mujahadah Syahriyah (Bulanan): Dilakukan di tingkat kecamatan.
  4. Mujahadah Rubu’us Sanah (Triwulan): Dilaksanakan di tingkat kabupaten.
  5. Mujahadah Nishfu Sanah (Setengah Tahunan): Digelar di tingkat provinsi.
  6. Mujahadah Kubro (Puncak): Puncak rangkaian acara yang dilaksanakan di tingkat pusat.

2. Siapa yang Terlibat dalam Gerakan ini?

Gerakan Shalawat Wahidiyah melibatkan seluruh pengamalnya, yang jumlahnya mengalami peningkatan signifikan setiap tahunnya.

Figur penting dalam gerakan ini meliputi:

  • Pengasuh Perjuangan Pusat: Kanjeng Romo K.H. Abdoel Lathief Madjied R.A., yang dikenal memiliki visi cemerlang, disiplin, dan berperan besar dalam peningkatan kuantitas pengamal serta pengembangan Pondok Pesantren Kedunglo. Beliau juga merawuhi (menghadiri) Mujahadah Nishfu Sanah tingkat provinsi.
  • Pendiri/Pewaris Amanah: Hadhratul Mukarram Mbah K.H. Abdoel Madjied Ma’roef, Q.S. wa R.A., yang memberikan amanah bahwa Mujahadah Kubro harus dilaksanakan di Ponpes Kedunglo.
  • Pelaksana dan Pengurus: Yayasan Perjuangan Wahidiyah dan Pondok Pesantren Kedunglo al Munadhdharah.
  • Kelompok Khusus: Dalam Mujahadah Kubro, peserta dibagi berdasarkan gelombang, yang melibatkan personil Yayasan, santri Kedunglo, ibu-ibu Wahidiyah (di bawah Departemen Pembina Wanita Wahidiyah Pusat), remaja Wahidiyah (di bawah Departemen Pembina Remaja Wahidiyah), dan kanak-kanak Wahidiyah.

Secara kuantitas, Wahidiyah diperkirakan menempati urutan ketiga setelah Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah di Indonesia, suatu capaian spektakuler mengingat Wahidiyah lahir paling akhir di antara organisasi Islam besar lainnya di Nusantara.

3. Di Mana Kegiatan Ini Dilaksanakan?

Pelaksanaan Mujahadah diselenggarakan secara berjenjang sesuai tingkatan wilayah:

  • Tingkat Desa: Mujahadah Usbuiyah dilaksanakan di satu desa, biasanya bergilir dari rumah ke rumah.
  • Tingkat Kecamatan: Mujahadah Syahriyah dilaksanakan di tingkat kecamatan.
  • Tingkat Kabupaten/Kota: Mujahadah Rubu’us Sanah dilaksanakan di tingkat kabupaten.
  • Tingkat Provinsi: Mujahadah Nishfu Sanah dilaksanakan oleh pengurus provinsi, sering kali dipusatkan di alun-alun kota atau kabupaten setempat untuk menampung peserta yang bertambah banyak.
  • Puncak (Kubro): Mujahadah Kubro harus dilaksanakan di Ponpes Kedunglo al Munadhdharah—tempat lahirnya shalawat wahidiyah—kecuali ada kondisi darurat. Saking banyaknya pengamal, saat Kubro, area di sepanjang jalan Bandar Kidul sampai pasar Bandar Lor ditutup total, dan layar lebar dipasang di jalan-jalan dan gang karena arena utama sudah tidak mampu menampung.

4. Kapan Saja Acara Mujahadah Dilaksanakan?

Jadwal Mujahadah sangat terstruktur, mulai dari setiap hari hingga puncak acara tahunan:

| Jenis Mujahadah | Frekuensi | | :--- | :--- | | Yaumiyah | Minimal sekali setiap hari | | Usbuiyah | Satu kali dalam satu minggu | | Syahriyah | Satu bulan sekali | | Rubu’us Sanah (Triwulan) | Tiga bulan sekali | | Nishfu Sanah | Setengah tahun sekali | | Kubro (Puncak) | Berturut-turut selama 5 hari |

Mujahadah Kubro 5 hari dibagi menjadi lima gelombang spesifik: malam Jumat (personil Yayasan/santri), malam Sabtu (ibu-ibu), malam Minggu (remaja), Minggu pagi (kanak-kanak), dan malam Senin (kaum bapak, yang merupakan acara puncak).

5. Apa Tujuan Utama Rangkaian Kegiatan Ini?

Tujuan utama Mujahadah adalah untuk meningkatkan syiar dalam pengamalan shalawat wahidiyah dan menjaga semangat perjuangan kesadaran Fafirru Ilallah wa Rasulihi saw agar tidak keluar dari relnya.

Tujuan spesifik dari beberapa kegiatan:

  • Mujahadah Usbuiyah: Untuk semakin meningkatkan rasa ukhuwah (persaudaraan) dan menjalin tali silaturahmi antar pengamal.
  • Mujahadah Syahriyah: Untuk mengundang tetangga sekitar agar mereka tahu tentang Shalawat Wahidiyah dan ajarannya, dengan harapan mereka mau ikut serta mengamalkan dan menyiarkan.
  • Upgrading (sebelum Rubu’us Sanah): Dilakukan sebagai bentuk pembinaan kepada seluruh personel dan jajaran pengamal, yang berdampak positif dalam peningkatan semangat dalam pengamalan, penyiaran, dan pembinaan.
  • Gelombang Ibu-ibu Kubro: Merupakan wujud penghargaan kepada kaum wanita pengamal agar mereka turut andil bersama kaum lelaki dalam barisan perjuangan suci.

6. Bagaimana Wahidiyah Berkembang dan Melaksanakan Kegiatan?

Pelaksanaan Mujahadah dilakukan secara terorganisir.

  1. Pelaksanaan Mujahadah: Mujahadah yaumiyah dilaksanakan secara personal dengan aurat mujahadah bilangan 7 atau 17. Sementara mujahadah tingkat kabupaten ke atas bersifat seremonial.
  2. Manajemen Acara Besar: Untuk Mujahadah Triwulan (Rubu’us Sanah), masalah perizinan terhadap dinas terkait harus diperhatikan karena melibatkan pengerahan massa yang banyak. Selain itu, Mujahadah Kubro dijalankan secara profesional dengan pembagian tugas, seperti petugas wanita yang disponsori oleh Departemen Pembina Wanita Wahidiyah Pusat.
  3. Pengembangan Institusi: Di bawah kepemimpinan Kanjeng Romo K.H. Abdoel Lathief Madjied R.A., Pondok Pesantren Kedunglo telah berubah dari pondok kecil menjadi pesantren besar yang diperhitungkan. Kedunglo kini memiliki lembaga pendidikan formal dari jenjang play group sampai perguruan tinggi, bahkan sedang merintis klinik sebagai pendukung fakultas kedokteran di Universitas Wahidiyah. Selain itu, Yayasan Perjuangan Wahidiyah telah mengembangkan sistem koperasi yang tersebar di seluruh Indonesia dan sedang merencanakan sistem perbankan syariah dengan bunga nol persen.

Secara keseluruhan, pertumbuhan spektakuler ini tidak terlepas dari kepiawaian Pengasuh Perjuangan Wahidiyah yang senantiasa mengingatkan pengamal untuk bersyukur dan meningkatkan mujahadah, memohon petunjuk kepada Allah dengan merintih.


Analogi untuk Memahami Struktur Mujahadah:

Rangkaian Mujahadah dalam Shalawat Wahidiyah dapat diibaratkan seperti sebuah tangga latihan militer yang bertujuan meningkatkan kesiapan spiritual dan kesadaran. Latihan harian (Yaumiyah) adalah latihan fisik personal setiap pagi; latihan mingguan (Usbuiyah) adalah apel gabungan di tingkat peleton; bulanan, triwulan, dan setengah tahunan adalah manajemen latihan di tingkat kompi, batalyon, dan resimen; dan Mujahadah Kubro adalah parade akbar atau gelar pasukan tertinggi yang menunjukkan kekuatan dan komitmen seluruh angkatan. Setiap tingkatan memastikan kesiapan, persaudaraan, dan peningkatan semangat perjuangan.