Pendahuluan
Setiap perjuangan menegakkan kalimat Allah pasti akan menghadapi ujian. Sebagaimana judul catatan sejarah "Wahidiyah Pernah Melalui Ujian yang Cukup Berat", peristiwa perpecahan dan pengkhianatan di masa lalu bukanlah aib yang harus ditutupi, melainkan pelajaran berharga yang harus diambil hikmahnya.
Artikel penutup seri ini akan mengajak kita merenung, mengapa ujian ini harus terjadi, dan bagaimana dampaknya terhadap kematangan Wahidiyah saat ini.
Ujian sebagai Sunnatullah
Para Nabi dan Rasul pun tidak luput dari ujian pengkhianatan, bahkan dari orang terdekat. Nabi Nuh diuji dengan anaknya, Nabi Luth dengan istrinya. Begitu pula perjuangan Wahidiyah. Ketika Mualif Sholawat Wahidiyah wafat, Allah menguji kesetiaan para pengamal: Apakah mereka benar-benar berjuang Lillah Billah (karena Allah), ataukah karena figur semata?
Konflik yang terjadi menyaring siapa yang loyal terhadap prinsip dan siapa yang memiliki kepentingan pribadi. Mereka yang bertahan bersama kepemimpinan yang sah (KH. Abdul Latif Madjid RA) adalah mereka yang lulus dari ujian loyalitas dan keimanan.
Bahaya Kultus dan Inovasi (Bid'ah)
Salah satu pelajaran terbesar dari kasus "Wage-Legi" (WL) adalah bahaya inovasi dalam amalan. Niat baik saja tidak cukup; amalan harus sesuai dengan tuntunan guru (Mualif). Ketika seseorang merasa "lebih pintar" atau merasa boleh menambah-nambah ajaran guru, di situlah pintu penyimpangan terbuka.
Wahidiyah mengajarkan kita untuk Sami'na wa Atho'na (mendengar dan taat) serta murni dalam mengikuti jejak (ittiba'). Peristiwa munculnya kelompok sempalan menjadi pengingat abadi agar kita tidak terjebak pada pengkultusan waktu atau tokoh yang tidak memiliki mandat ilahiah.
Kematangan Organisasi
Badai konflik tahun 1989-1992 justru membuat Wahidiyah di bawah Kedunglo semakin dewasa.
- Administrasi: Serangan legalitas membuat PSW Pusat berbenah diri, merapikan administrasi, dan memperkuat posisi hukum.
- Kaderisasi: Hilangnya tokoh-tokoh lama yang berkhianat justru memunculkan kader-kader baru yang lebih militan, ikhlas, dan berdedikasi tinggi.
- Soliditas: Tekanan dari luar dan dalam justru mempererat ikatan batin antara pemimpin (PUPW) dan pengamal setia.
Sikap Kita Hari Ini
Sebagai generasi penerus, mengetahui sejarah kelam ini bukan untuk menumbuhkan dendam, melainkan untuk kewaspadaan (alertness). Kita harus:
- Waspada: Terhadap gerakan-gerakan yang mengatasnamakan Wahidiyah namun tidak segaris dengan Kedunglo.
- Tabayyun: Selalu mengecek kebenaran informasi dan tidak mudah termakan hasutan.
- Fafirru Ilallah: Kembali memurnikan niat lari kepada Allah. Fokus kita adalah ibadah dan penyiaran, bukan berpolitik praktis atau berebut kekuasaan.
Penutup
Wahidiyah telah membuktikan ketangguhannya. Meski diterpa badai fitnah, pengkhianatan, dan intervensi, pohon perjuangan ini tetap berdiri kokoh, berbuah lebat, dan menaungi jutaan umat. Ini adalah bukti bahwa Wahidiyah dijaga oleh Allah SWT. Tugas kita sekarang adalah merawat warisan ini dengan kesetiaan dan keikhlasan yang paripurna.
Sumber:
- Refleksi Sejarah Wahidiyah.
- Ajaran Dasar Wahidiyah.